Harga Perak bergerak sedikit turun ke US$ 36,73 per troy ounce Pada hari Selasa (8/7), turun sekitar 0,13% dari penutupan sebelumnya di US$ 36,77. Harga logam putih ini mengalami fluktuasi, namun tetap berada di kisaran US$ 36–37/oz, mendekati level tertinggi dalam dua minggu. Tekanan terhadap Perak berasal dari Penguatan nilai tukar Dolar AS dan harapan Pasar terhadap pelonggaran Tarif – memberikan sedikit sentimen negatif meskipun kondisi makro lainnya mendukung logam ini. Volume perdagangan masih cukup likuid, menandakan minat investor yang cukup stabil meski sedang menanti arah kebijakan moneter berikutnya.
Fundamental Masih Mendukung, Namun Konsumsi Industri Lesu
Secara fundamental, Perak tetap dalam kondisi defisit. Laporan World Silver Survey dan analis seperti dari Silver Institute menyebutkan bahwa tahun 2025 adalah tahun kelima berturut-turut Pasar berada dalam defisit struktural, dengan permintaan melebihi pasokan sebesar sekitar 117–148 juta ounce. Di sisi lain, data dari Pasar AS dan Eropa menunjukkan penggunaan industri – khususnya di sektor elektronik dan solar—masih melambat akibat produsen menahan pembelian karena harga sudah naik signifikan. Kondisi ini menciptakan ketegangan antara tekanan bullish dari sisi pasokan dan penopang bearish dari sisi permintaan nyata. Bagaimanapun, outlook industri jangka panjang tetap positif, terutama karena peran Perak dalam energi terbarukan dan teknologi tinggi.
Outlook dan Faktor Pemicu Berikutnya
Melemahnya dollar AS atau kebijakan moneter longgar dari The Fed bisa menjadi pemicu kenaikan lanjutan bagi Perak. Saat ini, Pasar masih memperkirakan pemangkasan suku bunga AS pada semester kedua 2025, yang akan memperlemah yield dan membuat logam non-yielding seperti Perak menjadi lebih menarik . Selain itu, ketegangan geopolitik global dan fluktuasi Tarif dagang seperti kasus terbaru AS–China turut memberikan dukungan safe-haven.
Sumber : newsmaker.id (Arl)
Harga Perak Nyaris Stagnan! Dolar Naik, Tapi Minat Investor Masih Stabil
