Harga Minyak dunia mengalami Penguatan tipis pada Kamis (17/7), dipengaruhi oleh gejolak di Pasar mata uang akibat spekulasi tentang masa depan Ketua The Fed, Jerome Powell. Brent diperdagangkan pada level $68,38 per barel, setelah sebelumnya sempat menyentuh $69. West Texas Intermediate (WTI) juga menunjukkan pola serupa, menguat di tengah ketidakpastian arah kebijakan suku bunga AS yang dipicu oleh desakan Presiden Donald Trump untuk menurunkannya.
Meskipun Trump membantah akan memecat Powell, rumor tersebut telah cukup mengguncang nilai tukar Dolar AS. Dolar yang melemah membuat harga Minyak — yang dihargai dalam Dolar — menjadi lebih menarik bagi pembeli global. Analis UBS, Giovanni Staunovo, menyebut bahwa pelaku Pasar mulai menyesuaikan pandangan mereka terhadap arah kebijakan The Fed, yang pada akhirnya turut menggerakkan Pasar komoditas.
Namun di sisi lain, harga Minyak juga tertekan oleh kekhawatiran pasokan yang masih membayangi. Di AS, stok Minyak di pusat penyimpanan Cushing terus menurun. Bahkan, stok distilat berada di level terendah musimannya sejak 1996. Di Timur Tengah, serangan drone di ladang Minyak Kurdistan, Irak utara, menyebabkan gangguan produksi sekitar 200.000 barel per hari, meskipun wilayah itu belum mengekspor Minyak mentah sejak pipa ekspor ditutup dua tahun lalu.
Harga Minyak Brent untuk pengiriman September tetap stabil di $68,38 per barel pada pukul 10:04 pagi waktu London, sementara WTI untuk kontrak Agustus diperdagangkan di kisaran $66,40. Ketegangan geopolitik dan kebijakan moneter global masih menjadi faktor utama yang memengaruhi arah pergerakan harga Minyak dalam waktu dekat.
Sumber: (ayu-newsmaker)
Harga Minyak Naik, Dolar Goyang Gara-Gara Isu Pemecatan Powell
